'Maaf' Tidak Harus Selalu Anda Katakan

LifestyleUrbanoustics - Terbiasa meminta maaf hanya untuk meredakan ketegangan ketika Anda tidak benar-benar berbuat salah dapat bekerja melawan diri Anda sendiri.

Terkadang, kita tidak sadar telah menganggap sebuah permintaan maaf itu sebagai jalan keluar terakhir pada sebuah situasi konflik. Padahal, justru itu dapat memperburuk situasi dan kondisi, khususnya Anda dan hubungan Anda.

"Meminta maaf kronis untuk hal-hal yang bukan salahmu bisa menyakiti harga diri Anda dan membuat orang tidak nyaman", kata Bryan Dik, Ph.D., profesor psikologi di Colorado State University.

Selain itu, tindakan tersebut juga dapat membuat Anda akan tampak semakin lemah. Pada tingkat tertentu, Anda sudah menempatkan diri di bawah kondisi buruk itu, membuat Anda seolah-olah seperti selalu berada di bawah mereka, itu adalah hal yang tidak benar.

Dan pada akhirnya, meminta maaf dapat memiliki efek buruk karena itu dapat mengurangi efek (permintaan maaf yang sesungguhnya) ketika Anda benar benar perlu untuk mengatakannya. Jadi, bagaimana Anda tahu jika Anda perlu meminta maaf atau tidak?

Anda mungkin sudah berlebihan mengatakannya. Namun yang perlu Anda ketahui, permintaan maaf adalah tindakan yang sangat intim dan harus disediakan waktu khusus. Waktu dimana antara satu dengan lainnya telah menempatkan pikiran mereka dengan tenang, bukan saat tengah dalam situasi yang memanas.

"Anda harus meminta maaf jika Anda telah melakukan sesuatu yang salah dan ingin mengambil tanggung jawab untuk menebusnya", kata Prof Dik.

Dalam kebanyakan kasus lain, Anda dapat menukar ucapan "saya minta maaf" dengan "terima kasih". Jika seseorang membantu Anda atau Anda menyita waktu mereka, jangan mengucapkan minta maaf, tapi cukup katakan terima kasih pada mereka.

Begitu juga sebaliknya, jika Anda melihat seseorang tengah mengalami kesulitan dan membutuhkan pertolongan, maka kata "permisi" jauh lebih berarti dibandingkan dengan "maaf".

Tidak ada komentar